KUNJUNGI WEBSITE RESMI CIANJUR NEWS (CN) DI WWW.CIANJURNEWS.COMIIKUTI DIKLAT BLOG UNTUK GURU YANG DILAKSANAKAN OLEH WSI KERJASAMA TELKOM DAN CBC, BERTEMPAT DI PT. TELKOM CIANJUR MULAI TANGGAL 6 APRIL S.D 28 MEI 2008 ,PENDAFTARAN GRATIS, DAFTAR KE : SMK ISLAMIYAH SAYANG JL. PROF. MOH YAMIN NO. 110 SAYANG CIANJUR KONTAK PERSON : 08156309231

CianjurNEWS(16/2)Sebanyak 99% perkara yang masuk ke Pengadilan Negeri (PN) Cianjur, diwarnai dengan mafia peradilan. Namun demikian, mafia peradilan yang terjadi sangat sulit dibuktikan karena sangat minimnya bukti. Hal itu diungkapkan Humas PN Cianjur, Itong, saat menggelar jumpa pers di Bale Prayoga Pemkab Cianjur, Jumat (15/2).

Menurut Itong, motif terjadinya mafia peradilan tersebut sangat banyak, namun sulit dibuktikan. "Kondisi seperti ini membuat kepercayaan terhadap penegakan hukum menjadi menurun, tapi kondisinya memang seperti itu. Sayangnya, mafia peradilan itu terjadi dan sulit untuk dibuktikan," aku Itong.

Dikatakannya, selama 2007, PN Cianjur berhasil menyidangkan sedikitnya 636 berbagai kasus. Dari jumlah tersebut, 70 kasus di antaranya masih belum selesai dan masih dalam menjalani proses persidangan. Sedangkan untuk kasus perdata jumlahnya hanya mencapai 32 kasus.

"Kalau dilihat jumlah kasus perdata yang masuk memang tidak idial untuk ukuran PN kelas IB, idealnya minimal 100 kasus per data," katanya.

Kendati sedikitnya kasus perdata yang masuk ke PN, pihaknya malah bersyukur karena beberapa kasus perdata yang masuk dan diputus, ternyata tidak banyak yang menguntungkan, baik penggugat maupun tergugat.

"Hanya teori kalau biaya pengadilan itu murah, kenyataannya tidak demikian. Kami malah berharap kalau ada masyarakat yang bersengketa tentang perdata, sebaiknya diselesaikan secara musyawarah mufakat karena kalau ke pengadilan prosesnya akan panjang dan belum tentu menguntungkan," paparnya.

Sumber : Bisri Musthofa-Galamedia

CianjurNEWS (15/2) Ucapan dan sikap Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Kadisdik) Kab Cianjur Hidayat Atori membuat lima fraksi DPRD tersinggung.Mereka menilai, Hidayat menghina DPRD Kab Cianjur.

Karena itu,Komisi I DRPD membuat nota komisi mendesak Bupati Cianjur Tjetjep Muchtar Soleh menonaktifkan Kadisdik. Kata-kata yang dilontarkan Kadisdik terhadap Ketua Komisi III DPRD Kab Cianjur, Ruddy Syahdiar,yang saat itu sedang menghadiri acara di Kec Sindangbarang Selasa (12/2) lalu seakan-akan menantang. Ruddy mengaku tersinggung dengan ucapan Kadisdik tersebut.Sebab menurut dia,ucapan itu tidak layak terlontar dari mulut seorang Kadisdik.

“Harusnya seorang Kadisdik tidak berbicara seperti itu,menyela Dewan dengan kata-kata tidak pantas. Padahal, saat itu sedang berkumpul para petinggi SKPD Kab Cianjur,” ungkap Ruddy kemarin. Sikap Kadisdik tersebut membuat gerah lima fraksi di DPRD, di antaranya FPG, FPDIP, FPBB, FPKB, dan FPPP.Bahkan,komisi I kemarin pagi langsung menggelar rapat fraksi dan mengeluarkan nota komisi mendesak bupati menonaktifkan Hidayat Atori sebagai Kadisdik.

Sementara itu, Kadisdik Hidayat Atori membantah tudingan bahwa dia melecehkan anggota Dewan di depan Bupati dan petinggi lain. Menurut dia,waktu itu dia hanya berniat humor.

“Saya yakin 100% tidak berani berbicara seperti itu.Apalagi di acara tersebut banyak petinggi, seperti Bupati,Sekda,dan beberapa Kepala Dinas.Tudingan tersebut hanya salah persepsi,” ujar Hidayat melalui telepon seluler kemarin.

Ketua FPG Kab Cianjur Moch Isnaeni menyebutkan, meski hanya bercanda, tapi ucapan itu tidak pantas dilontarkan seorang kepala dinas yang seharusnya menjadi panutan bagi dunia pendidikan. Sementara Ketua FPDIP Kab Cianjur Cep Buldan mengaku bahwa ucapan yang dikatakan Kadisdik tersebut lebih parah dari ucapan preman.

Sumber : Koran Sindo

Lagi, TKW Cianjur Disiksa Majikan

Diposting oleh Asep Moh. Muhsin | 06.25 | , | 0 komentar »

CianjurNEWS (15/2) Nasib naas menimpa Yoyoh Nurlina binti H Zenal (44) tenaga kerja wanita (TKW) asal Kampung Lio RT 01/08) Desa Ciherang Karangtengah Cianjur. Sekujur tubuhnya cedera akibat disiksa sang majikan saat bekerja di Kuwait.

Yoyoh berangkat ke Kuwait pada 3 Maret 2005 melalui perusahaan pengerah jasa tenaga kerja Indonesia (PJTKI) PT Crystal Bimo di Batu Ampar Condet, Jakarta Timur dengan pimpinan Umar Basrani. Di Kuwait Yoyoh bekerja di rumah majikannya bernama Sarah (27) dengan satu anak di rumah susun di Kota Pahakel, Kuwait City.

Tiga bulan pertama perangai sang majikan terlihat baik. Namun, bulan selanjutnya Sarah mulai memperlihatkan sikap kasar kepada Yoyoh. "Majikan mulai mengunci kulkas dan mengalas makanan," tutur Yoyoh kepada Radar di rumahnya, kemarin.

Siksaan pun menghinggapi tubuh Yoyoh. Rambut panjangnya sempat dipotong paksa oleh Sarah dan sempat berulang kali dipukul pakai rotan. Satu waktu kepala Yoyoh dibanting hingga harus dilarikan ke rumah sakit. "Kepala saya sobek dan mendapat enam jahitan ketika itu," kenangnya.

Tidak hanya memukul dan membanting, jari manis tangan kanan Yoyoh juga dipatahkan dan 10 giginya rontok setelah wajahnya dijerembabkan ke benda keras. Akibatnya, jari ibu dengan dua anak Ucu (2) dan Raras (20) itu tampak bengkok.

"Lihat saja jari tangan saya bengkok, di sekujur tubuh juga terdapat bekas luka," ujarnya sambil memperlihatkan bagian tubuh yang luka.

Yayah mengaku terpaksa bertahan bekerja karena desakan kebutuhan ekonomi keluarganya. Kontrak dua tahun juga menjadi alasan lain. Dari 18 bulan bekerja hanya 4 bulan gaji yang ia terima. Itupun hanya 40 dinar/bulan dari kontrak yang disepakati sekitar 45 dinar/bulan. "Gaji yang saya terima selama 4 bulan itu sekitar 160 dinar (Rp 4,8 juta, red)," sebut Yoyoh.

Sudah tidak nyaman bekerja lagi, Yoyoh kemudian memberanikan melarikan diri ke Agency Askarani di Kota Salmiah. Pihak Agency menyarankan agar Yoyoh tidak usah kembali ke rumah majikan karena dikhawatirkan siksaan lebih pedih akan diterimanya.

Pelarian Yoyoh ke Agency Askarani rupanya diketahui oleh Sarah yang akhirnya menuntut ganti rugi kontrak kerja. Ibu yang sudah empat kali berangkat ke luar negeri itu sebagai TKW pun diganjar 13 hari kurungan.

Usai dipenjara Yoyoh berhasil dipulangkan pihak Agency dan tiba di Indonesia pada 28 Januari 2008. Dia sempat meminta pertanggungjawaban pihak PJTKI terkait gaji. "Berkas serta passport sudah ada di PJTKI, katanya mau segera diurus," ujar Yoyoh dengan lirih.

Sumber : Nanag Rustandi - Radar Bogor

CianjurNEWS (15/2) Sungguh malang nasib Duyeh (20), warga Kp. Cipeujeuh RT 01/RW 01 Desa Sukamulya, Kec. Cikalong Kulon, Kab. Cianjur. Ketika asyik menyabit rumput di dekat rumahnya, Rabu (13/2), tiba-tiba ia roboh akibat kaki kirinya tertembus peluru nyasar.

Sebelum pingsan, korban sempat melihat lukanya yang mengeluarkan banyak darah. Korban dilarikan ke RSUD Cianjur oleh tetangganya untuk mendapatkan pertolongan.

Menurut penuturan korban, saat itu sekira pukul 10.00 WIB, ia merasakan kaki kirinya di bawah betis terasa sakit. Saat dilihat darah mengucur dan terdapat luka bulat cukup dalam. "Lalu kepala saya pusing dan tidak ingat apa-apa lagi," ujar korban saat ditemui "GM" di Ruang Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSUD Cianjur, kemarin.

Sementara itu menurut Ujang (34) yang mengantar korban ke rumah sakit, ia mengaku tidak mengetahui kronologis kejadian yang menimpa tetangganya. Saat itu ia hanya disuruh oleh keluarga korban mengantarkan ke Puskesmas Cikalong Kulon. Namun pihak puskesmas tidak sanggup menangani luka korban, lalu menyarankan untuk membawanya ke RSUD Cianjur.

Menurut hasil pemeriksaan medis, korban terkena peluru nyasar. Dugaan tersebut diperkuat dengan hasil pemeriksaan laboratorium bahwa di dalam kaki korban di bawah betis terdapat benda padat yang diduga dari serpihan peluru, ujar dr. Teti Suratika melalui petugas medisnya Itang Hidayat saat ditemui di Ruang IGD RSUD Cianjur.

Sumber : Bisri Musthofa - Galamedia

CianjurNews.com (1/02) Kegiatan belajar mengajar (KBM) di Madrasah Ibtidaiyah (MI) Darul Athfal di Kampung Tambakbaya Desa Cipetir Cibeber, Kabupaten Cianjur sangat memprihatinkan. Siswa terpaksa belajar di bangunan darurat beratap terpal plastik dan berdinding bambu dengan kondisi ruangan yang tidak sehat serta nyaman.

Enam unit bangunan MI Darul Athfal rusak sudah puluhan tahun tapi belum direspon baik oleh Departemen Agama (Depag) Kabupaten Cianjur maupun Pemkab. Jumlah siswa yang saat ini bertahan belajar di bawah tenda tersebut sebanyak 101 siswa.

Sebelumnya jumlah siswa hampir mencapai 150 orang, namun dengan kondisi itu terpaksa orangtua sebagian siswa memindahkan anaknya ke sekolah lain.

Kepala Sekolah MI Darul Athfal Lilis Marliah (30) saat dikonfirmasi wartawan mengakui kondisi yang demikian. Pihaknya terpaksa memindahkan siswa karena tidak satupun bangunan yang ada saat ini bisa ditempati.

"Dari enam ruangan kelas di sekolah ini sudah rusak semua sedangkan proses belajar mengajar harus tetap berjalan, ya terpaksa kita mendirikan bangunan alakadarnya," tutur Lilis kepada Radar, kemarin.

MI Darul Athfal dibangun 1969 hasil swadaya dan hingga saat ini belum ada rehab total meski sempat mendapat perbaikan ringan. Itupun tidak bisa bertahan lama. Enam ruangan kelas itu mengalami rusak total pada 22 Januari 2008 setelah diterpa angin kencang dan hujan deras pada malam hari.

"Kita sudah melaporkan peristiwa itu ke Depag Cianjur maupun Dinas Pendidikan dan Kebudayaan namun hingga saat ini belum ada tanggapan," ujar Lilis seraya menyebut ada 7 guru yang mengajar di sekolah yang dipimpinnya.

Sebelumnya pihak sekolah sempat melayangkan beberapa kali proposal untuk bantuan rehabilitasi namun tidak ada tanggapan serius. "Kami sudah bosan melayangkan proposal. Sempat beberapa kali sekolah ini ditinjau dari dinas dan instansi terkait tapi tidak ada tindaklanjutnya," keluh Lilis.

Lokasi MI Darul Athfal berada di atas bukit dan jarak dari Jalan Raya Cibeber cukup jauh serta harus menggunakan kendaraan roda dua untuk sampai ke lokasi itu. Jarak dari jalan desa menuju MI hanya 50 meter.

Dua bangunan yang sedang digunakan untuk KBM tersebut dipakai siswa secara bergantian. Satu bangunan digunakan untuk kelas 1, 2 dan 3 sementara satu bangunan lagi digunakan kelas 4, 5 dan 6. Kemudian sore harinya dipakai oleh SMP Terbuka Al Muslihin.

Sumber : Nanag Rustandi- Radar Bogor
Posting : Asep Muhsin